Saturday, 14 February 2015

Rayakan Valentine dengan Berinvestasi, Mungkin?


Valentine day untuk pasangan muda adalah perayaan cinta. Tetapi, apalah artinya cinta, jika tanpa komunikasi. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Melampaui dua arti itu, Valentine day menjadi moment untuk merayakan pengorbanan satu terhadap yang lainnya demi meniti kebahagiaan bersama. Tak pelak, perayaan cinta itu menjadi sekaligus perayaan keharmonisan.

 

Pernahkah Anda berpikir untuk selalu menghadirkan moment Valentine day sepanjang hidup Anda bersama dengan pasangan Anda? Sejumlah pasangan yang lebih senior dan pasangan lansia telah merasakan moment tersebut, dan memberikan kesaksian bahwa ‘itulah bagian terbaik dari potongan hidupnya.’


Namun, tidak jarang moment Valentine itu menguap. Yang ada, hidup terasa terhimpit beban berat dan Anda seperti kehilangan daya untuk berlangkah. Benih pertikaian dan keretakan pun menjalar.

Masalah keuangan bisa hadir sebagai pemicu rusaknya moment Valentine. Anda sama sekali kehilangan moment untuk memiliki Valentine day yang paling berkesan tahun ini, atau bahkan kehilangan moment Valentine di sepanjang kebersamaan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan sejak dini untuk pasangan muda tidak saja penting, tetapi merupakan salah satu pilar keharmonisan keluarga. Tidak jarang, masalah keuangan menjadi sesuatu yang krusial bahkan menjadi pemicu konflik dan keretakan. Tetapi, jika pasangan muda sudah terbiasa dengan mengelola keuangan keluarga sejak dini, ibarat lem, hubungan interkeluarga makin rekat dan harmonis.

Apa yang harus dilakukan pasangan muda untuk mencegah terjerat dari fenomena tersebut? Seperti moment Valentine, tentu saja yang paling utama adalah komunikasi.

Komunikasi pertama, berapa jumlah uang di dompetmu. Sebab, tak jarang pasangan muda bahkan berusia tua terbiasa untuk menyelipkan ‘penghasilan gelap’ di dompet untuk kesenangan sendiri. Terbukalah dengan pasangan Anda soal berapa besar penghasilan Anda. Kini, penghasilan Anda itu menjadi penghasilan bersama.

Komunikasi kedua, apakah keinginan dan impianmu? Bisakah kita berbagi dalam impian bersama? Tidak jarang, ada perbedaan yang mencolok terkait impian dan rencana. Tentu saja akan menggerus penghasilan. Tetapi, jika kedua pasangan bisa terbuka untuk mengutarakan impian dan keinginan itu, lalu menetapkan impian bersama dalam skala prioritas, Anda telah memasuki gerbang perencanaan keuangan keluarga.

Komunikasi ketiga, mari kita tetapkan rencana cash flow keluarga kita. Di satu sisi, Anda telah saling terbuka dan mengetahui kekuatan penghasilan keluarga Anda. Di sisi lain, impian Anda dan pasangan Anda juga telah Anda ketahui. Ada juga impian bersama dalam skala prioritas. Lalu, bagaimana dengan pengeluaran harian keluarga Anda. Dapatkah semua hal itu diinventarisir dalam satu catatan sehingga Anda bisa memperkirakan pengeluaran wajib yang harus Anda sisihkan? Dan semua hal itu, kini menjadi catatan berharga untuk keluarga Anda karena telah berhasil menetapkan cash flow keluarga Anda.

Pengeluaran harian sifatnya tidak bisa dielak. Anda memang harus menyisihkan penghasilan Anda untuk membiayai rutinitas tersebut. Tetapi, terkait impian dan keinginan pasangan muda, apalagi yang waktu pemenuhannya masih dalam rentang waktu panjang, inilah momentum untuk meningkatkan kualitas hubungan Anda.

Impian untuk membeli rumah misalnya, bisa ditingkatkan manfaatnya melalui investasi. Dalam jangka waktu lima tahun misalnya, Anda tidak saja mampu mencicil uang muka sebuah hunian impian Anda bersama pasangan, tetapi juga menikmati margin dari hasil investasi yang Anda tanamkan.

Melalui keputusan untuk memilih berinvestasi sejak dini, asal produk dan prospeknya jelas, pasangan muda tidak saja menyimpan uang tunai mereka tetapi juga menerima manfaat lebih dalam jangka waktu tertentu sesuai target untuk mewujudkan impian bersama.

Selain investasi, sediakan juga dana darurat. Kita tidak mungkin bisa memprediksikan segala kemungkinan yang bakal terjadi di depan. Menyisihkan dana tertentu untuk kebutuhan darurat sangat membantu demi menjaga keseimbangan cash flow keluarga. Sesewaktu Anda dan pasangan tidak perlu khawatir berhadapan dengan situasi darurat yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Barangkali pengakuan sebuah keluarga muda dengan satu anak ini bisa dijadikan pelajaran. Ketika si buah hati berumur dua tahun, pasangan muda ini memutuskan untuk membeli produk asuransi kesehatan buat si kecil dalam jangka waktu tiga tahun. Setelah tiga tahun, jika opsi proteksi itu tidak terpakai, dana tersebut bisa dicairkan beserta kelipatan investasinya.

Tak terasa, buah hati dari pasangan muda ini sudah beranjak enam tahun dan akan memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Ayah muda dari si kecil ini wara-wiri memikirkan biaya uang pangkal masuk sekolah. Sang ayah sama sekali tidak menyadari jika ibu dari si kecil ini telah dalam proses mencairkan dana investasi tersebut.

“Saya pikir uang kita tidak cukup untuk uang pangkal kalau kita paksakan masuk ke sekolah tersebut. Padahal, kepingin sekali anak kita sekolah di sana. Selain kualitasnya bagus, pendidikan humaniora, dan lingkungannya juga bagus,” ujar sang ayah. “Sudahlah, soal biaya untuk uang pangkal tidak usah dipikirkan, kan kita punya dana dari investasi lima tahun yang lalu,” ujar sang ibu ditemani cahaya lilin tepat untuk sebuah dinner di saat Valentine day.

Bisa ditebak, apa pengaruhnya untuk keharmonisan keluarga pasangan muda tersebut?


 

No comments:

Post a Comment