Valentine day untuk pasangan muda adalah perayaan cinta. Tetapi, apalah artinya cinta, jika tanpa komunikasi. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Melampaui dua arti itu, Valentine day menjadi moment untuk merayakan pengorbanan satu terhadap yang lainnya demi meniti kebahagiaan bersama. Tak pelak, perayaan cinta itu menjadi sekaligus perayaan keharmonisan.
Pernahkah Anda berpikir untuk
selalu menghadirkan moment Valentine day sepanjang hidup Anda bersama dengan
pasangan Anda? Sejumlah pasangan yang lebih senior dan pasangan lansia telah
merasakan moment tersebut, dan memberikan kesaksian bahwa ‘itulah bagian
terbaik dari potongan hidupnya.’
Namun, tidak jarang moment
Valentine itu menguap. Yang ada, hidup terasa terhimpit beban berat dan Anda
seperti kehilangan daya untuk berlangkah. Benih pertikaian dan keretakan pun
menjalar.
Masalah keuangan bisa hadir
sebagai pemicu rusaknya moment Valentine. Anda sama sekali kehilangan moment
untuk memiliki Valentine day yang paling berkesan tahun ini, atau bahkan
kehilangan moment Valentine di sepanjang kebersamaan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan sejak dini
untuk pasangan muda tidak saja penting, tetapi merupakan salah satu pilar
keharmonisan keluarga. Tidak jarang, masalah keuangan menjadi sesuatu yang
krusial bahkan menjadi pemicu konflik dan keretakan. Tetapi, jika pasangan
muda sudah terbiasa dengan mengelola keuangan keluarga sejak dini, ibarat lem,
hubungan interkeluarga makin rekat dan harmonis.
Apa yang harus dilakukan pasangan muda untuk mencegah terjerat dari
fenomena tersebut? Seperti moment Valentine, tentu saja yang paling utama
adalah komunikasi.
Komunikasi pertama, berapa jumlah uang di dompetmu. Sebab, tak jarang
pasangan muda bahkan berusia tua terbiasa untuk menyelipkan ‘penghasilan gelap’
di dompet untuk kesenangan sendiri. Terbukalah dengan pasangan Anda soal berapa
besar penghasilan Anda. Kini, penghasilan Anda itu menjadi penghasilan bersama.
Komunikasi kedua, apakah keinginan dan impianmu? Bisakah kita berbagi
dalam impian bersama? Tidak jarang, ada perbedaan yang mencolok terkait impian
dan rencana. Tentu saja akan menggerus penghasilan. Tetapi, jika kedua pasangan
bisa terbuka untuk mengutarakan impian dan keinginan itu, lalu menetapkan
impian bersama dalam skala prioritas, Anda telah memasuki gerbang perencanaan
keuangan keluarga.
Komunikasi ketiga, mari kita tetapkan rencana cash flow keluarga kita. Di satu sisi, Anda telah saling terbuka
dan mengetahui kekuatan penghasilan keluarga Anda. Di sisi lain, impian Anda
dan pasangan Anda juga telah Anda ketahui. Ada juga impian bersama dalam skala
prioritas. Lalu, bagaimana dengan pengeluaran harian keluarga Anda. Dapatkah
semua hal itu diinventarisir dalam satu catatan sehingga Anda bisa
memperkirakan pengeluaran wajib yang harus Anda sisihkan? Dan semua hal itu,
kini menjadi catatan berharga untuk keluarga Anda karena telah berhasil menetapkan
cash flow keluarga Anda.
Pengeluaran harian sifatnya tidak bisa dielak. Anda
memang harus menyisihkan penghasilan Anda untuk membiayai rutinitas tersebut.
Tetapi, terkait impian dan keinginan pasangan muda, apalagi yang waktu pemenuhannya
masih dalam rentang waktu panjang, inilah momentum untuk meningkatkan kualitas
hubungan Anda.
Impian untuk membeli rumah misalnya, bisa ditingkatkan manfaatnya
melalui investasi. Dalam jangka waktu lima tahun misalnya, Anda tidak saja
mampu mencicil uang muka sebuah hunian impian Anda bersama pasangan, tetapi
juga menikmati margin dari hasil investasi yang Anda tanamkan.
Melalui keputusan untuk memilih berinvestasi sejak dini, asal produk
dan prospeknya jelas, pasangan muda tidak saja menyimpan uang tunai mereka
tetapi juga menerima manfaat lebih dalam jangka waktu tertentu sesuai target
untuk mewujudkan impian bersama.
Selain investasi, sediakan juga dana darurat. Kita tidak mungkin bisa
memprediksikan segala kemungkinan yang bakal terjadi di depan. Menyisihkan dana
tertentu untuk kebutuhan darurat sangat membantu demi menjaga keseimbangan cash flow keluarga. Sesewaktu Anda dan
pasangan tidak perlu khawatir berhadapan dengan situasi darurat yang tentunya
membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Barangkali pengakuan sebuah keluarga muda dengan satu anak ini bisa
dijadikan pelajaran. Ketika si buah hati berumur dua tahun, pasangan muda ini
memutuskan untuk membeli produk asuransi kesehatan buat si kecil dalam jangka
waktu tiga tahun. Setelah tiga tahun, jika opsi proteksi itu tidak terpakai,
dana tersebut bisa dicairkan beserta kelipatan investasinya.
Tak terasa, buah hati dari pasangan muda ini sudah beranjak enam tahun
dan akan memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Ayah muda dari si kecil ini
wara-wiri memikirkan biaya uang
pangkal masuk sekolah. Sang ayah sama sekali tidak menyadari jika ibu dari si
kecil ini telah dalam proses mencairkan dana investasi tersebut.
“Saya pikir uang kita tidak cukup untuk uang pangkal kalau kita paksakan
masuk ke sekolah tersebut. Padahal, kepingin sekali anak kita sekolah di sana. Selain
kualitasnya bagus, pendidikan humaniora, dan lingkungannya juga bagus,” ujar
sang ayah. “Sudahlah, soal biaya untuk uang pangkal tidak usah dipikirkan, kan
kita punya dana dari investasi lima tahun yang lalu,” ujar sang ibu ditemani
cahaya lilin tepat untuk sebuah dinner di
saat Valentine day.
Bisa ditebak, apa pengaruhnya untuk keharmonisan keluarga pasangan muda
tersebut?
No comments:
Post a Comment